Minggu, 20 Desember 2015

Cegah Obesitas Terjadi Pada Anak Anda

Semakin gendut seorang anak, semakin makmur dan diyakini akan tumbuh cerdas. That's sooo old! Hal itu pemikiran zaman baheula alias zaman dahulu banget.

Memang ada pemikiran orangtua dahulu yang beranggapan anak harus diberi makan banyak agar badannya gempal dan montok. Tapi seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin kita dibeberkan fakta bahwa hal tersebut adalah pemahaman yang salah. Anak seharusnya tumbuh sehat dan lincah agar mendapat stimulasi dari luar, bukan tumbuh membesar ke samping dan membuatnya menjadi anak yang malas gerak.

Penyebab obesitas pada anak sebenarnya sangatlah kompleks seperti faktor genetik, biologis, perilaku dan budaya. Tapi apabila anak sudah gendut sejak kecil, 90% dapat dipastikan ia akan gendut juga saat dewasa kelak. Pada dasarnya, obesitas terjadi ketika seseorang makan lebih banyak kalori daripada kalori yang mampu dibakar oleh tubuh. Prinsipnya, kebutuhan anak Anda bukanlah kalori yang melimpah, tapi berbagai macam vitamin, mineral dan omega 3 agar otak anak tumbuh sempurna.

Menurut studi dalam Archives of Disease in Childhood. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang obesitas disebabkan oleh beberapa faktor selain pola asupan makanan yang salah. Perhatikan hal-hal berikut ini agar tubuh anak Anda tidak tumbuh ke samping.

  • Menu makan yang buruk: Anak-anak cenderung lebih penasaran akan banyak hal, sehingga mereka lebih senang bermain daripada duduk makan. Nah hal itulah yang membuat kaum orangtua tidak mau ambil pusing terhadap menu makanan anaknya. Anggapan “asal mau makan” pun diterapkan. Junkfood dan mie instan sering dijadikan pilihannya. Padahal bila orangtua mau sedikit berusaha, cara merayu anakagar mau makan bisa dengan cara menyediakanmakanan dalam bentuk yang unik dan menarik .
  • Makan atau ngemil terlalu banyak: Selain menu makan yang buruk, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, orangtua cenderung memberi makan anak makanan-makanan berkalori besar seperti es krim, kue, keripik, atau makanan lain dalam kemasan di sela-sela jam makan agar anak tidak rewel. Padahal hal itu adalah pemikiran yang sama sekali tidak benar dan malah menjadi bumerang, menjadikan anak Anda tambun.
  • Kurangnya olahraga: Anak-anak di umur 2-10 tahun cenderung akan malas bergerak apabila disuguhi mainan yang bersifat statis seperti playstation atau game online yang sekarang sedang marak. Padahal di umur itu, anak sebaiknya lebih banyak melakukan kegiatan fisik agar pertumbuhannya optimal.
  • Riwayat keluarga mengidap obesitas: Genetik memang susah dihindari. Anak yang lahir dari orangtua yang memiliki bobot tubuh berlebih cenderung akan mengalami obesitas.
  • Obat (steroid, beberapa obat psikiatris): Bagi anak yang memiliki diabilitas mental biasanya akan diberikan obat-obatan khusus untuk mengobatinya. Obat itu biasanya dapat memicu hormon yang dapat menyebabkan kegemukan.
  • Stress atas suatu kejadian atau perubahan (perpisahan, perceraian, pindah lingkungan, kematian, pelecehan).
  • Rasa rendah diri dan masalah emosional lainnya: Mengapa rasa rendah diri dapat memicu kegemukan pada anak? Hal itu disebabkan anak yang rendah diri cenderung lebih memilih berdiam diri di rumah daripada bergaul dengan teman-teman sebayanya. Ketika anak sendiran tanpa ada teman, biasanya anak akan mencari kesibukan seperti mengemil untuk menghilangkan kebosanannya, hal itulah yang membuat anak menjadi gemuk.


Resiko yang dapat diakibatkan obesitas pada anak-anak meliputi :
  • Peningkatan risiko penyakit jantung
  • Tekanan darah tinggi
  • Diabetes
  • Masalah Pernapasan
  • Masalah Tidur
  • Memiliki rasa percaya diri yang rendah dan minder dengan teman sebaya mereka.
  • Selain itu perasaan depresi, kecemasan, dan gangguan obsesif kompulsif juga dapat terjadi.

Bagaimana menangani masalah obesitas pada anak..?
  • Membuat Program untuk mengendalikan berat badan
  • Merubah kebiasaan makan (makan perlahan-lahan, yang nantinya secara rutin)
  • Mengontrol pola makan serta menyeleksi makanan yang akan dikonsumsi (mengurangi makan makanan berlemak, hindari junk food dan fastfood)
  • Kontrol porsi dan mengonsumsi menu rendah kalori
  • Meningkatkan aktivitas fisik (terutama berjalan dan bermain) dan merubah gaya hidup lebih aktif
  • Makan bersama keluarga, bukan sambil menonton televisi atau di depan komputer
  • Tidak memberikan makanan sebagai hadiah
  • Batasi ngemil
  • Beri motivasi anak agar mau mengontrol berat badannya

RUMUS BERAT BADAN IDEAL ANAK BALITA :
Berat Badan Ideal pada bayi atau balita dapat dihitung dimana sesuaikan juga jenis kelamin, anak laki-laki dan perempuan berbeda. Menurut WHO yang disebut berat badan ideal untuk usia 3 bulan adalah yang masuk dalam range 5,1 kg - 8,0 kg dan untuk anak 3 tahun adalah 11,4 kg - 18 kg.

Obesitas sering menjadi masalah seumur hidup. Maka dari itu anak harus dibiasakan makan makanan sehat dalam porsi cukup, bukan berlebihan, sedari kecil. Bagi orangtua yang sudah memiliki anak dengan berat badan berlebih, dapat mulai membangun kepercayaan diri anak-anak agar mau mengatur pola  makan dengan menekankan kepada anak tentang kualitas hidup sehat dan aktif, sehingga mereka sadar dengan sendirinya tanpa merasa tertekan karena Anda hanya fokus pada masalah berat badan dan memarahi mereka apabila makan banyak.


Sumber:

http://www.farmamedia.net/

Jumat, 11 Desember 2015

Jangan Biarkan Anak Anda Menjadi Korban Kekerasan di Sekolah

Kekerasan, penganiyayaan secara verbal atau fisik, yang kini lebih dikenal dengan istilah bullying sedang marak di sekolah-sekolah. Tidak peduli siapa Anda, anak Anda tetap bisa menjadi salah satu korbannya. Bullying sendiri merupakan tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan. Hal tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, namun yang paling sering dilakukan oleh temannya terhadap teman sebaya yang dianggap lebih lemah.


Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Srti Ariani, S.Psi., M.Si (Nina) mengatakan, dampak bullying pada anak baik secara fisik atau kata-kata seperti ejekan atau celaan sama-sama memiliki dampak buruk bagi perkembangan fisik dan mental anak.
Orangtua terkadang tidak sadar bahwa anaknya menajdi korban kekerasan di sekolahnya, dan yang lebih tragis, kekerasan yang dilakukan oleh teman sebayanya tersebut tidak terdeteksi oleh pihak sekolah. Lebih parahnya, biasanya anak-anak tidak berani untuk bilang kepada guru maupun orangtuanya ketika ia menjadi korban kekerasan verbal maupun fisim oleh teman sebayanya. Lalu bagaimana kita tahu anak kita menjadi korban bullying?

Ciri-ciri anak menjadi korban kekerasan:
1. Perilaku anak dari hari ke hari berubah makin murung dan diam. Kadang anak menyendiri sendiri di kamar, tiba-tiba menangis sendiri tanpa sebab jelas tapi jika ditanya mengelak dan mengatakan tidak apa2.
2. Anak menjadi lebih sensitif seperti mudah marah, tersinggung dan cengeng jika ditanya atau ditegur orang tua.
3. Prestasi semakin menurun dan anak sulit berkonsentrasi belajar. Guru juga melaporkan anak kerap tidak menyerahkan tugas atau PR nya.
4. Jika berangkat sekolah tidak bersemangat, terlambat bangun, kadang ketakutan dan enggan berangkat dengan beragam alasan. Jika dipaksa berangkat sekolah, mendadak sakit perut, mengeluh pusing atau demam. Sakit perut, pusing dan demam adalah reaksi akibat ketakutan yang sangat.
5. Cek barang anak. Biasanya anak kehilangan barang atau sejumlah barangnya rusak. Misalnya buku yang hilang, robek, sampul yang copot atau dicoret-coret, pinsil patah, rautan pecah, baju yang sobek, dan sebagainya. Tapi jika ditanya anak selalu mengelak dan mengatakan itu perbuatannya sendiri.
6. Cek tubuhnya seperti keberadaan memar, luka dan benjol.
7. Anak pulang sekolah lebih lama dari biasanya tanpa alasan yang jelas. Biasanya anak ditahan pembully untuk mengerjakan sesuatu mis.mengerjakan PR nya.

Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya yang membahas banyaknya dampak negatif yang dirasakan oleh anak akibat dari tindakan bullying ini, sebaiknya kita mengetahui cara-cara menghindari anak kita menjadi korban berikutnya. Bagi pihak sekolah, penting untuk mengusahakan jangan ada pojok sepi yang bisa dijadikan tempat anak-anak bersembunyi atau melakukan tindakan bullying di sana. Guru-guru sebaiknya bergantian rutin mengawasi lingkungan sekolah dari anak masuk sekolah hingga anak-anak kembali ke rumah masing-masing.


Bagi para orangtua, cara-cara berikut dapat diterapkan untuk menghindari tindakan bully terjadi pada anak-anak:
1.    Beri perhatian lebih pada anak: Kebanyakan tindakan penindasan terhadap anak terjadi karena kurangnya perhatian untuk anak. Diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama oleh keluarga dan lingkungan terdekat akan membuat anak hatus perhatian. Akibatnya anak akan mencari perhatian “seluruh dunia.” Terkadang anak yang haus perhatian tersebut dapat menjadi gangguan bagi teman sebayanya sehingga mengundang tindakan defensive yang bisa berbentuk hinaan atau tindakan fisik seperti mendorongnya, memukul, menyubit, menjambak, dan lainnya.
2.    Ingatkan anak untuk tidak memulai: Anak-anak yang memiliki kecenderungan menghina orang lain biasanya justru sering mendapatkan pengalaman direndahkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Ajarkan anak untuk selalu menghargai setiap orang, tidak peduli bagaimanapun bentuk fisiknya. Kadang anak yang menjadi korban kekerasan bukan anak yang kurang pergaulan, melainkan anak yang aktif dan banyak bicara. Anak yang seperti itu cenderung akan mudah mengucapkan kata-kata yang kurang enak didengar oleh teman-temannya seperti menghina anak lainnya dnegn sebutan “gendut,” “jelek,” dan lain sebagainya. Hal itu membuat teman-temannya membalas perbuatannya dengan dibantu anak-anak yang lain, pada akhirnya ia pun menjadi korban bully akibat ulahnya sendiri. Untuk menghindarinya, ajari anak Anda berempati. Rasa empati tidak dapat lahir dengan sendirinya bagi anak-anak. Peran orangtua amat besar dalam hal ini. Berempati memerlukan hati yang jauh lebih besar daripada sekedar menghargai.
3.    Ajarkan anak membedakan mana yang salah dan mana yang benar: Sebagian anak mengalami pem-bully-an karena ia belum memahami mana yang sala dan mana yang benar, yang akhirnya menerima saja setiap perlakuan kasar dari teman-teman di sekolahnya tanpa ada pemberontakan. Sebagai tindakan awal, tanamkan rasa percaya diri pada anak, lalu tanamkan sifat-sifat positif. Ajak anak berinteraksi dengan dunia dan beritahu mana yang baik dan mana yang buruk. Anna Sullivan, pengasuh Hellen Keller, mengajari Hellen untuk percaya diri dengan mengajaknya menyentuh dan merasakan semua bagian taman, dan memberitahunya mana yang bisa diajak “berteman,” dan mana yang harus dihindari karena dapat membahayakannya.
4.    Ajak anak berbicara: Bila anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda menjadi korban bully seperti di atas, ajak anak berbicara. Jangan memarahi dan mengancam anak untuk segera memberitahu apa yang terjadi, karena hal itu kan semakin membuat anak tertutup. Orangtua perlu mengajaknya bicara seperti menanyakan apa yang dia rasakan, sakit hati, marah, sedih dan sebagainya dalam suasana yang santai sambil memberikan sentuhan kasih sayang padanya. Buat ia percaya untuk menceritakan segala hal yang ia alami pada Anda.


Sumber:
http://health.liputan6.com/

http://www.parenting.co.id/

Rabu, 10 Juni 2015

Cara Menjaga Kesehatan Mata Anak Anda


Mata merupakan anugerah terbesar dari Yang Maha Esa. Dengan mata, kita mampu melihat dunia yang megah ini. Dengan mata pula kita memulai melihat ibunda tercinta saat dilahirkan ke dunia. Mata yang sehat dan sempurna adalah modal utama untuk dapat menikmati hidup dengan optimal, karena itu rawat sebaik mungkin kesehatan mata anak Anda sejak mereka berusia dini.

Berikut cara menjaga kesehatan mata anak Anda:

Ajarkan Anak untuk Menjaga Kebersihan Mata
Anak kecil biasanya tidak terlalu peduli akan kebersihan tangan, sehingga seringkali reflek mengucek mata dalam keadaan tangan kotor sekalipun. Ajarkan anak selalu menjaga kebersihan tangan juga jangan lupa untuk membersihkan tangan sebelum memegang mata agar penyebaran kuman tidak sampai ke mata.

Ingatkan Anak akan Bahaya Sinar UV bagi Mata
Sorotan sinar UV dapat menjadi salah satu penyebab pengerasan lensa, katarak, dan terjadinya penurunan penglihatan akibat adanya gangguan di pusat retina. Bila memungkinkan, ajarkan anak agar menggunakan kacamata ketika berada di luar rumah dalam jangka waktu yang lama, ketika saat bermain di pantai atau saat mengajaknya berkendara.

Batasi Anak dalam Menonton Televisi
Televisi terdiri dari komponen-konponen yang rumit, dan mengeluarkan cahayta terang agar gambar yang dihasilkan juga luar biasa. Namun hal tersebut berbahaya bagi mata, karena cahaya yang terang dari televisi dan juga sinar radiasinya dapat merusak kornea mata. Karena itu batasi waktu anak dalam menonton TV dan buatlah jarak ketika anak sedang menonton setidaknya 5 kali diagonal inchi TV.

Jangan Biarkan Anak Anda Larut pada Gadget
Zaman yang semakin canggih ini membuat banyak anak menyenangi bermain menggunakan gadget. Istilah hiperbolanya, bayi yang baru melek sekalipun sudah dapat mengoperasikan gadget. Hal tersebut dapat membahayakan mata anak Anda. Sama hal nya dengan televisi, sinar radiasinya dapat merusak kornea. Ukuran gadget yang kecilpun dapat merusak mata karena memaksa kornea bekerja lebih keras untuk fokus pada tulisan dan gambar yang kecil.

Mengonsumsi Makanan yang Sehat untuk Mata
Agar mata anak anda tetap sehat maka berikan mereka makanan yang kaya akan vitamin A, seperti tomat, wortel, brokoli setiap hari. Agar nutrisi mereka terpenuhi konsumsi juga suplemen yang kaya akan omega-3. Omega-3 amat baik untuk menjaga kesehatan mata karena omega-3 adalah asam lemak esensial yang dapat melancarkan peredaran darah dari dan ke mata. Sehingga penyerapan zat gizi yang mampu membantu kesehatan mata.


Nah, bagi anda para orang tua harus mewaspadai beberapa hal berikut agar kesehatan mata anak anda tetap terjaga sehingga mereka bisa menikmati hidup ini dengan melihat keindahan dunia dan memudahkan mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sumber:
organisasi.org

Rabu, 03 September 2014

Tips Melatih Kecerdasan Bahasa



Kecerdasan bahasa adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis, termasuk di dalamnya kemampuan menggunakan tata bahasa, melafalkan bunyi, menguraikan makna kata dan menggunakan bahasa secara efektif.
Kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki kecerdasan bahasa antara lain:
  1. Kelancaran berbicara, bercerita dan menyampaikan gagasan di depan orang banyak.
  2. Penguasaan kosa kata yang bervariasi.
  3. Keterampilan melakukan permainan yang menggunakan kata dan bahasa.
Kecerdasan bahasa pada anak sudah bisa dilatih sejak anak masih bayi, sekalipun anak belum dapat berbicara. Melalui pendengarxannya, anak akan mempelajari banyak kosa kata dan memahami ucapan orang-orang di sekitarnya.
Bahkan sangat banyak orang tua yang mengajak berbicara kepada bayi yang masih dikandung. Kebiasaan ini dapat melatih otak janin untuk mengenali berbagai ekspresi dan intonasi.


Apa saja yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk melatih kecerdasan bahasa pada anak? Berikut tipsnya :
  1. Mengenalkan nama benda yang dijumpai di sekitar anak akan menambah kosa kata dan pengetahuan anak. Tunjuk benda yang dimaksud dan sebutkan namanya. Bila perlu, tambahkan keterangan, misalnya ini ikan, ikan biasa berenang di air, atau itu burung dan burung itu terbang dengan menggunakan sayap. Aktivitas ini akan menggugah minat dan rasa ingin tahu anak, kemudian anak akan mencoba mengucapkan nama-nama tersebut atau bertanya.
  2. Merangsang anak untuk memilih benda, misalnya ade mau jeruk atau apel? Aktivitas ini bermanfaat untuk melatih anak mengingat nama benda sekaligus merangsang anak agar dapat mengambil keputusan.
  3. Membicarakan aktivitas yang sedang dilakukan, misalnya : ade minum dulu ya, yuk sekarang kita mandi, nah... sekarang kita pakai baju, ade makan yuk, tuh lihat kakak baru pulang sekolah, dsb.
  4. Mendongeng (story telling) sambil memperlihatkan gambar pada buku cerita. Aktivitas ini akan mengembangkan imajinasi dan mengajarkan tutur bahasa yang baik seperti diungkapkan dalam dongeng yang tenga disampaikan.
  5. Mengajak anak bermain puzzle huruf, melalui permainan ini anak dirangsang membuat rangkaian kata dari huruf-huruf yang disediakan juga untuk melatih penguatan memori terhadap huruf. Manfaat permainan ini dapat merangsang anak untuk berinteraksi dengan huruf dan kata sehingga anak akan menyukai kegiatan membaca.
  6. Mengajarkan anak menyanyi sambil melafalkan liriknya. Langkah ini akan meningkatkan kemampuan anak mengingat kata-kata dengan cara yang menyenangkan, sekaligus melatih kemampuan musikalnya.
  7. Perbaiki lafal pengucapan anak dengan tenang, gunakan bahasa dan lafal yang baik agar bisa ditiru. Tujuan utama dari suara yang dikeluarkan oleh bayi adalah mengomunikasikan ide, bukan kata-kata. Saat belajar bicara, batita akan bereksperimen dengan suaranya agar bisa mengeluarkan bunyi yang tepat
Dengan stimulasi yang tepat dan terarah, kecerdasan bahasa anak pasti semakin berkembang. Dengan demikian anak dapat menyampaikan idenya dan berkomunikasi dengan maksimal.