Jumat, 11 Desember 2015

Jangan Biarkan Anak Anda Menjadi Korban Kekerasan di Sekolah

Kekerasan, penganiyayaan secara verbal atau fisik, yang kini lebih dikenal dengan istilah bullying sedang marak di sekolah-sekolah. Tidak peduli siapa Anda, anak Anda tetap bisa menjadi salah satu korbannya. Bullying sendiri merupakan tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan. Hal tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, namun yang paling sering dilakukan oleh temannya terhadap teman sebaya yang dianggap lebih lemah.


Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Srti Ariani, S.Psi., M.Si (Nina) mengatakan, dampak bullying pada anak baik secara fisik atau kata-kata seperti ejekan atau celaan sama-sama memiliki dampak buruk bagi perkembangan fisik dan mental anak.
Orangtua terkadang tidak sadar bahwa anaknya menajdi korban kekerasan di sekolahnya, dan yang lebih tragis, kekerasan yang dilakukan oleh teman sebayanya tersebut tidak terdeteksi oleh pihak sekolah. Lebih parahnya, biasanya anak-anak tidak berani untuk bilang kepada guru maupun orangtuanya ketika ia menjadi korban kekerasan verbal maupun fisim oleh teman sebayanya. Lalu bagaimana kita tahu anak kita menjadi korban bullying?

Ciri-ciri anak menjadi korban kekerasan:
1. Perilaku anak dari hari ke hari berubah makin murung dan diam. Kadang anak menyendiri sendiri di kamar, tiba-tiba menangis sendiri tanpa sebab jelas tapi jika ditanya mengelak dan mengatakan tidak apa2.
2. Anak menjadi lebih sensitif seperti mudah marah, tersinggung dan cengeng jika ditanya atau ditegur orang tua.
3. Prestasi semakin menurun dan anak sulit berkonsentrasi belajar. Guru juga melaporkan anak kerap tidak menyerahkan tugas atau PR nya.
4. Jika berangkat sekolah tidak bersemangat, terlambat bangun, kadang ketakutan dan enggan berangkat dengan beragam alasan. Jika dipaksa berangkat sekolah, mendadak sakit perut, mengeluh pusing atau demam. Sakit perut, pusing dan demam adalah reaksi akibat ketakutan yang sangat.
5. Cek barang anak. Biasanya anak kehilangan barang atau sejumlah barangnya rusak. Misalnya buku yang hilang, robek, sampul yang copot atau dicoret-coret, pinsil patah, rautan pecah, baju yang sobek, dan sebagainya. Tapi jika ditanya anak selalu mengelak dan mengatakan itu perbuatannya sendiri.
6. Cek tubuhnya seperti keberadaan memar, luka dan benjol.
7. Anak pulang sekolah lebih lama dari biasanya tanpa alasan yang jelas. Biasanya anak ditahan pembully untuk mengerjakan sesuatu mis.mengerjakan PR nya.

Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya yang membahas banyaknya dampak negatif yang dirasakan oleh anak akibat dari tindakan bullying ini, sebaiknya kita mengetahui cara-cara menghindari anak kita menjadi korban berikutnya. Bagi pihak sekolah, penting untuk mengusahakan jangan ada pojok sepi yang bisa dijadikan tempat anak-anak bersembunyi atau melakukan tindakan bullying di sana. Guru-guru sebaiknya bergantian rutin mengawasi lingkungan sekolah dari anak masuk sekolah hingga anak-anak kembali ke rumah masing-masing.


Bagi para orangtua, cara-cara berikut dapat diterapkan untuk menghindari tindakan bully terjadi pada anak-anak:
1.    Beri perhatian lebih pada anak: Kebanyakan tindakan penindasan terhadap anak terjadi karena kurangnya perhatian untuk anak. Diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama oleh keluarga dan lingkungan terdekat akan membuat anak hatus perhatian. Akibatnya anak akan mencari perhatian “seluruh dunia.” Terkadang anak yang haus perhatian tersebut dapat menjadi gangguan bagi teman sebayanya sehingga mengundang tindakan defensive yang bisa berbentuk hinaan atau tindakan fisik seperti mendorongnya, memukul, menyubit, menjambak, dan lainnya.
2.    Ingatkan anak untuk tidak memulai: Anak-anak yang memiliki kecenderungan menghina orang lain biasanya justru sering mendapatkan pengalaman direndahkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Ajarkan anak untuk selalu menghargai setiap orang, tidak peduli bagaimanapun bentuk fisiknya. Kadang anak yang menjadi korban kekerasan bukan anak yang kurang pergaulan, melainkan anak yang aktif dan banyak bicara. Anak yang seperti itu cenderung akan mudah mengucapkan kata-kata yang kurang enak didengar oleh teman-temannya seperti menghina anak lainnya dnegn sebutan “gendut,” “jelek,” dan lain sebagainya. Hal itu membuat teman-temannya membalas perbuatannya dengan dibantu anak-anak yang lain, pada akhirnya ia pun menjadi korban bully akibat ulahnya sendiri. Untuk menghindarinya, ajari anak Anda berempati. Rasa empati tidak dapat lahir dengan sendirinya bagi anak-anak. Peran orangtua amat besar dalam hal ini. Berempati memerlukan hati yang jauh lebih besar daripada sekedar menghargai.
3.    Ajarkan anak membedakan mana yang salah dan mana yang benar: Sebagian anak mengalami pem-bully-an karena ia belum memahami mana yang sala dan mana yang benar, yang akhirnya menerima saja setiap perlakuan kasar dari teman-teman di sekolahnya tanpa ada pemberontakan. Sebagai tindakan awal, tanamkan rasa percaya diri pada anak, lalu tanamkan sifat-sifat positif. Ajak anak berinteraksi dengan dunia dan beritahu mana yang baik dan mana yang buruk. Anna Sullivan, pengasuh Hellen Keller, mengajari Hellen untuk percaya diri dengan mengajaknya menyentuh dan merasakan semua bagian taman, dan memberitahunya mana yang bisa diajak “berteman,” dan mana yang harus dihindari karena dapat membahayakannya.
4.    Ajak anak berbicara: Bila anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda menjadi korban bully seperti di atas, ajak anak berbicara. Jangan memarahi dan mengancam anak untuk segera memberitahu apa yang terjadi, karena hal itu kan semakin membuat anak tertutup. Orangtua perlu mengajaknya bicara seperti menanyakan apa yang dia rasakan, sakit hati, marah, sedih dan sebagainya dalam suasana yang santai sambil memberikan sentuhan kasih sayang padanya. Buat ia percaya untuk menceritakan segala hal yang ia alami pada Anda.


Sumber:
http://health.liputan6.com/

http://www.parenting.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar