Kekerasan, penganiyayaan secara verbal atau fisik, yang kini lebih dikenal dengan istilah bullying sedang marak di sekolah-sekolah. Tidak peduli siapa Anda, anak Anda tetap bisa menjadi salah satu korbannya. Bullying sendiri merupakan tindakan mengintimidasi dan memaksa seorang individu atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional melalui pelecehan dan penyerangan. Hal tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, namun yang paling sering dilakukan oleh temannya terhadap teman sebaya yang dianggap lebih lemah.
Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Srti
Ariani, S.Psi., M.Si (Nina) mengatakan, dampak bullying pada anak baik
secara fisik atau kata-kata seperti ejekan atau celaan sama-sama memiliki
dampak buruk bagi perkembangan fisik dan mental anak.
Orangtua terkadang
tidak sadar bahwa anaknya menajdi korban kekerasan di sekolahnya, dan yang
lebih tragis, kekerasan yang dilakukan oleh teman sebayanya tersebut tidak
terdeteksi oleh pihak sekolah. Lebih parahnya, biasanya anak-anak tidak berani
untuk bilang kepada guru maupun orangtuanya ketika ia menjadi korban kekerasan
verbal maupun fisim oleh teman sebayanya. Lalu bagaimana kita tahu anak kita
menjadi korban bullying?
Ciri-ciri anak menjadi korban
kekerasan:
1. Perilaku anak dari
hari ke hari berubah makin murung dan diam. Kadang anak menyendiri sendiri di
kamar, tiba-tiba menangis sendiri tanpa sebab jelas tapi jika ditanya mengelak
dan mengatakan tidak apa2.
2. Anak menjadi
lebih sensitif seperti mudah marah, tersinggung dan cengeng jika ditanya atau
ditegur orang tua.
3. Prestasi
semakin menurun dan anak sulit berkonsentrasi belajar. Guru juga melaporkan anak
kerap tidak menyerahkan tugas atau PR nya.
4. Jika berangkat
sekolah tidak bersemangat, terlambat bangun, kadang ketakutan dan enggan
berangkat dengan beragam alasan. Jika dipaksa berangkat sekolah, mendadak sakit
perut, mengeluh pusing atau demam. Sakit perut, pusing dan demam adalah reaksi
akibat ketakutan yang sangat.
5. Cek barang
anak. Biasanya anak kehilangan barang atau sejumlah barangnya rusak. Misalnya
buku yang hilang, robek, sampul yang copot atau dicoret-coret, pinsil patah,
rautan pecah, baju yang sobek, dan sebagainya. Tapi jika ditanya anak selalu
mengelak dan mengatakan itu perbuatannya sendiri.
6. Cek tubuhnya
seperti keberadaan memar, luka dan benjol.
7. Anak pulang
sekolah lebih lama dari biasanya tanpa alasan yang jelas. Biasanya anak ditahan
pembully untuk mengerjakan sesuatu mis.mengerjakan PR nya.
Seperti yang sudah
dibahas di artikel sebelumnya yang membahas banyaknya dampak negatif yang
dirasakan oleh anak akibat dari tindakan bullying ini, sebaiknya kita mengetahui cara-cara menghindari anak kita
menjadi korban berikutnya. Bagi pihak sekolah, penting untuk mengusahakan
jangan ada pojok sepi yang bisa dijadikan tempat anak-anak bersembunyi atau
melakukan tindakan bullying di sana. Guru-guru sebaiknya bergantian
rutin mengawasi lingkungan sekolah dari anak masuk sekolah hingga anak-anak
kembali ke rumah masing-masing.
Bagi para orangtua, cara-cara berikut
dapat diterapkan untuk menghindari tindakan bully terjadi pada
anak-anak:
1.
Beri perhatian lebih pada anak:
Kebanyakan tindakan penindasan terhadap anak terjadi karena kurangnya perhatian
untuk anak. Diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya, terutama oleh keluarga
dan lingkungan terdekat akan membuat anak hatus perhatian. Akibatnya anak akan
mencari perhatian “seluruh dunia.” Terkadang anak yang haus perhatian tersebut
dapat menjadi gangguan bagi teman sebayanya sehingga mengundang tindakan defensive
yang bisa berbentuk hinaan atau tindakan fisik seperti mendorongnya,
memukul, menyubit, menjambak, dan lainnya.
2.
Ingatkan anak untuk tidak memulai:
Anak-anak yang memiliki kecenderungan menghina orang lain biasanya justru
sering mendapatkan pengalaman direndahkan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Ajarkan anak untuk selalu menghargai setiap orang, tidak peduli bagaimanapun
bentuk fisiknya. Kadang anak yang menjadi korban kekerasan bukan anak yang
kurang pergaulan, melainkan anak yang aktif dan banyak bicara. Anak yang
seperti itu cenderung akan mudah mengucapkan kata-kata yang kurang enak
didengar oleh teman-temannya seperti menghina anak lainnya dnegn sebutan
“gendut,” “jelek,” dan lain sebagainya. Hal itu membuat teman-temannya membalas
perbuatannya dengan dibantu anak-anak yang lain, pada akhirnya ia pun menjadi
korban bully akibat ulahnya sendiri. Untuk menghindarinya, ajari anak
Anda berempati. Rasa empati tidak dapat lahir dengan sendirinya bagi anak-anak.
Peran orangtua amat besar dalam hal ini. Berempati memerlukan hati yang jauh
lebih besar daripada sekedar menghargai.
3.
Ajarkan anak membedakan mana yang salah
dan mana yang benar: Sebagian anak mengalami pem-bully-an
karena ia belum memahami mana yang sala dan mana yang benar, yang akhirnya
menerima saja setiap perlakuan kasar dari teman-teman di sekolahnya tanpa ada
pemberontakan. Sebagai tindakan awal, tanamkan rasa percaya diri pada anak,
lalu tanamkan sifat-sifat positif. Ajak anak berinteraksi dengan dunia dan
beritahu mana yang baik dan mana yang buruk. Anna Sullivan, pengasuh Hellen
Keller, mengajari Hellen untuk percaya diri dengan mengajaknya menyentuh dan
merasakan semua bagian taman, dan memberitahunya mana yang bisa diajak
“berteman,” dan mana yang harus dihindari karena dapat membahayakannya.
4.
Ajak anak berbicara: Bila
anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda menjadi korban bully seperti di
atas, ajak anak berbicara. Jangan memarahi dan mengancam anak untuk segera
memberitahu apa yang terjadi, karena hal itu kan semakin membuat anak tertutup.
Orangtua perlu mengajaknya bicara seperti menanyakan apa yang dia rasakan,
sakit hati, marah, sedih dan sebagainya dalam suasana yang santai sambil
memberikan sentuhan kasih sayang padanya. Buat ia percaya untuk menceritakan
segala hal yang ia alami pada Anda.
Sumber:
http://health.liputan6.com/
http://www.parenting.co.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar