Autisme
dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah masalah
kesehatan yang semakin banyak muncul pada dekade belakangan ini. Seorang anak yang menderita ADHD atau autisme
akan mengalami kesulitan belajar dan berkurang kualitas hidupnya.
Autisme
adalah suatu kondisi gangguan perkembangan pada manusia dengan pola perilaku
dan gangguan dalam berkomunikasi serta interaksi sosial.
ADHD
adalah termasuk salah satu jenis autisme dengan kombinasi hiperaktivitas. Anak
yang mengalami ADHD cenderung memiliki sifat kurang perhatian, konsentrasi
mudah terpecah, tidak dapat memperhatikan/mengikuti petunjuk, hiperaktif,
sering merebut barang milik orang lain secara paksa dan bersifat impulsif
(merusak). Baik di sekolah ataupun di rumah prestasi tidak tercapai, yang ada
hanya kekesalan dari para guru dan lingkungan sekitar. Hal seperti ini lama
kelamaan akan membuat sang anak menjadi tidak percaya diri.
Gender sangat berpengaruh
terhadap kejadian ADHD :- Anak laki–laki lebih sering mengalami ADHD daripada anak wanita dengan perbandingan 2:1, hal ini dikarenakan pada anak laki-laki lebih banyak terjadi gangguan pada metabolisme asam lemak tak jenuh esensial dibandingkan anak perempuan.
- Biasanya anak laki-laki dengan ADHD memiliki masalah dalam belajar untuk menulis dan membaca sedangkan anak wanita dengan ADHD cenderung memiliki masalah dalam hal angka dan aritmatika
- Faktor lingkungan (55%) :
- Usia ayah atau ibu di atas 40 tahun.
- Hamil trimester 1: infeksi, obat-obatan, penyakit ibu, perdarahan.
- Kekurangan asam lemak esensial omega-3 dan omega-6 selama bayi dikandung.
- Saat persalinan: lama mengedan, pendarahan, proses kelahiran menggunakan vakum/forceps, lilitan tali pusat, prematur, berat badan lahir rendah.
- Tim Peneliti Swedia yang dipimpin oleh dr. Anders Hjern menemukan bahwa bayi yang lahir paling tidak tiga minggu dari cukup bulan memiliki risiko terkena gangguan hiperaktivitas dan ADHD 40-60% lebih tinggi dari bayi cukup bulan. Bahkan pada usia 37-38 minggu, risikonya 20% lebih tinggi (Jurnal Pediatrics).
- Setelah lahir (kejang, epilepsi, trauma, kurang atau kelebihan pengasuhan).
- Paparan bahan kimia dan logam berat.
- Faktor keturunan (45%) :
- Gangguan di otak (amigdala, prefrontal, hipocampus, cerebelum).
- Kecepatan proses pembentukan sel saraf, termasuk sel otak di dalam kandungan.
- Pada ibu hamil: membantu pembentukan pembuluh darah sehingga mencegah pertumbuhan janin terhambat dan risiko keracunan kehamilan (darah tinggi dalam kehamilan), mencegah persalinan prematur.
- Pada ibu menyusui: air susu ibu mengandung omega-3 yang cukup tinggi, yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan otak dan mata.
- Mengurangi kejadian depresi.
- Membantu mengurangi gejala ADHD, beberapa penelitian melaporkan pada anak penderita autisme dan ADHD kandungan omega-3 dalam darahnya lebih rendah dibandingkan anak normal.
Penelitian pada 75 anak dengan ADHD selama 3 bulan,
membagi anak-anak tersebut ke dalam 2 kelompok:
- Kelompok I diberi suplemen omega-3 dan omega-6 masing-masing 6 tablet/hari.
- Kelompok II diberikan plasebo.
Pada 3 bulan selanjutnya, kelompok II pun diberikan
suplemen omega-3 dan omega-6.
Hasilnya, terjadi penurunan gangguan perhatian dan
hiperaktivitas yang lebih signifikan pada kelompok I dibandingkan dengan
kelompok II (Johnson M., dkk., Journal of Attention Disorders).
sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar