Rabu, 26 Maret 2014

Tips Melatih Kecerdasan Emosional ( EQ )

Salah satu cara melatih kecerdasan emosional anak dingkapkan oleh Maurice J. Elias dkk dengan bukunya “Cara efektif Mengasuh Anak dengan EQ” dan Joan Gottman & Jean De Claire dalam bukunya “Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang Memiliki EQ” (1992).

Joan Gottman & Jean De Claire mengidentifikasikan empat tipe orang tua dalam menyikapi ungkapan emosi anak beserta dampaknya sbb : 

  1. Orang tua yang mengabaikan, mereka tidak menghiraukan dan menganggap sepi atau meremehkan emosi-emosi negatif anak. Akibatnya anak menganggap bahwa perasaan-perasaan itu keliru, tidak tepat atau tidak sah. Mereka mungkin merasakan ada yang salah dari perasaannya dan mungkin juga menghadapi kesulitan untuk mengatur emosi mereka sendiri.
  2. Orang tua yang tidak menyetujui, mereka bersikap kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak mereka. Akibatnya bagi anak adalah sama denga tipologi pertama.
  3. Orang tua yang berempati, mereka menerima emosi anak-anak mereka dan berempati tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas tingkah laku anak mereka. Akibatnya, anak tidak belajar mengatur emosi mereka, menghadapi kesulitan untuk berkonsentrasi dan sulit menjalin persahabatan atau bergaul dengan orang lain.
  4. Orang tua yang berperan sebagai pelatih emosi, mereka menghargai emosi negatif anak sebagai suatu kesempatan untuk semakin akrab, berempati dengan emosi yang dialami anak, namun mereka membimbing dan menentukan batas-batas tingkah laku anak-anak mereka. Hasilnya, anak belajar mempercayai perasaanya, mengatur emosi mereka sendiri dan menyelesaikan masalahnya. Mereka juga mempunyai harga diri yang tinggi dan mampu bergaul dengan orang lain.

Adapun prinsip dasar untuk melatih kecerdasan emosional anak adalah :
  1. Menyadari emosi anak. Orang tua harus mengidentifikasi emosi yang dirasakan anak, untuk selanjutnya melatih anak agar menyadari emosinya sendiri dan peka terhadap hadirnya emosi pada orang lain. Contohnya: saat orang tua sedang sedih, beritahukan kepada anak. Demikian juga saat anak merasa sedih atau marah.
  2. Mengakui emosi anak dan memanfaatkannya sebagai peluang untuk membangun kedekatan dan dan mengajar kecerdasan emosional pada anak. Contohnya: saat nilai rapor anak buruk atau mengalami pengalaman-pengalaman negatif, orang tua mengajari cara mengatasi perasaan tersebut.
  3. Mendengarkan, berempati dan menstabilkan perasaan anak. Dengarkan 'curhat' anak dengan empati, amati reaksi anak dan gunakan insting Anda untuk melihat situasi dari sudut pandang anak. Dengan demikian Anda bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk merumuskan situasi yang terjadi dan membantu anak menemukan solusi atas apa yang dirasakan anak.
  4. Menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata. Orang tua perlu melatih anak menamai emosi yang mereka rasakan, misalnya tegang, cemas, sakit hati, marah, sedih dan sebagainya. Dengan cara ini, anak akan terbiasa dan memahami apa yang mereka rasakan, terhindar dari perasaan yang tidak jelas.
  5. Menentukan batas-batas sambil melatih anak memecahkan masalahnya sendiri :
    • Memberikan pengertian kepada anak, bahwa perasaan mereka bukanlah masalah, yang menjadi masalah adalah bila mereka berprilaku keliru.
    • Membantu anak menemukan masalahnya sendiri dan bagaimana menyikapinya.
    • bekerja sama dengan anak untuk memikirkan solusi atas masalahnya. Caranya adalah dengan bertanya kepada anak tentang apa yang diinginkannya berkatian dengan masalah yang dihadapi dan menuntun anak untuk menemukan solusinya.
    • Mengevaluasi solusi yang diusulkan dan mendorong anak merenungkan solusi untuk setiap masalah secara terpisah dengan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti apakah solusi itu tepat? Apakah solusi itu aman? Apa akibat dari solusi tersebut, dan berbagai pertanyaan lainya. Hal ini membantu anak menjajaki pemecahan masalah yang akan dipilihnya.
    • Membantu anak memilih solusi terbaik.

Melatih kecerdasan emosional anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian khusus dari orang tua. Dengan kecerdasan emosional yang tinggi, maka anak mampu mengendalikan emosinya dan mengarahkannya untuk membangun energi positif. Anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi akan lebih mudah bergaul dan mampu menghadapi berbagai tekanan baik di sekolah maupun di masyarakat. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar